Minggu, 17 Januari 2010

Kelalaian...


-->
Dalam 7 Hari Yang Telah Lalu dan Mungkin Akan Terulang



Hari ke-1, Tahajudku tertinggal
Dan aku begitu sibuk akan duniaku. Hingga zuhurku, kuselesaikan saat ashar mulai memanggil. Dan sorenya kulewati saja masjid yang mengumandangkan azan maghrib. Dengan niat kulakukan bersama isya, itupun terlaksana setelah acara tv selesai

Hari ke-2, Tahajudku tertinggal lagi.
Dan hal yang sama aku lakukan sebagaimana hari pertama

Hari ke-3, aku lalai lagi akan tahajudku
Temanku memberi hadiah novel best seller yang lebih dari 200 hlmn. Dalam waktu tidak 1 hari aku telah selesai membacanya. Tapi...enggan sekali aku membaca Al-qur’an walau cuma 1 juz.
Al-qur’an yang 114 surat, hanya 1,2 surat yang ku hapal itupun dengan terbata-bata
Tapi...ketika temanku bertanya ttg novel tadi betapa mudah & lancarnya aku menceritakan

Hari ke-4, kembali aku lalai lagi akan tahajudku
Sorenya aku datang ke selatan Jakarta dengan niat mengaji. Tapi kubiarkan ustadzku yang sedang mengajarkan kebaikan. Kubiarkan ustadzku yang sedang mengajarkan lebih luas tentang agamaku. Aku lebih suka mencari bahan obrolan dgn teman yang ada disamping kiri & kananku. Padahal ba’da maghrib tadi betapa sulitnya aku merangkai kata-kata untuk kupanjatkan saat berdo’a

Hari ke-5, kembali aku lupa akan tahajudku
Ku pilih shaf paling belakang dan aku mengeluh saat imam sholat jum’at kelamaan bacaannya. Padahal betapa dekat jaraknya aku dengan televisi dan betapa nikmat & serunya saat perpanjangan waktu sepak bola favoritku tadi malam

Hari ke-6, Aku semakin lupa akan tahajudku
Kuhabiskan waktu di mall & bioskop bersama teman-temanku. Demi memuaskan nafsu mata & perutku sampai puluhan ribu tak terasa keluar. Aku lupa...waktu di perempatan lampu merah tadi, saat wanita tua mengetuk kaca mobilku, hanya uang dua ratus rupiah kuberikan itupun tanpa menoleh

Hari ke-7, Bukan hanya tahajudku tapi shubuhku pun tertinggal
Aku bermalas-malasan di tempat tidurku menghabiskan waktu. Selang beberapa saat dihari ke-7 itu juga Aku tersentak kaget mendengar kabar temanku kini telah terbungkus kain kafan, padahal baru tadi malam aku bersamanya & ¾  malam tadi dia dengan miscallnya mengingatkan aku tentang tahajud.

Kematian.....kenapa aku baru gemetar mendengarnya?
Padahal dari dulu sayap-sayapnya selalu mengelilingiku & dia bisa hinggap kapanpun dia mau.

¼ abad lebih aku lalai.....
Dari hari ke hari, bulan dan tahun
Yang wajib jarang aku lakukan apalagi yang sunnah
Kurang mensyukuri walaupun KAU tak pernah meminta
Berkata kuno akan nasehat ke-2 orangtua ku
Padahal keringat & air matanya telah terlanjur menetes demi aku

Ya...Allah andai ini merupakan satu titik hidayah
Walaupun imanku belum seujung kuku hitam
Aku hanya ingin detik ini hingga nafasku yang saat nanti tersisa
Tahajud dan sholatku meninggalkan bekas
Saat aku melipat sajadahku. Amin...

Bila di dunia ada syurga,
Maka itulah kehidupan rumah tangga yang sakinah mawaddah wa rahmah
Bila di dunia ada neraka,
Maka itulah kehidupan rumah tangga yang tak selaras & jauh dari agama

Bahagialah mereka yang diamnya berfikir,
Memandangnya mengambil pelajaran,
Mendengarnya mengambil hikmah dan
Dalam tindakannya mengenal indahnya ajaran Islam.

“Sesungguhnya amanah yang ada itu lebih banyak dari waktu yang tersedia, untuk itu bantulah saudaramu dalam menyelesaikannya serta sederhanakanlah apa yang bisa disederhanakan”.


Aku sangat senang membaca ini. File ini terselip di CD yang telah lama kusimpan. Dulu aku mendapatkan ini dari temanku. Aku posting ini ke blogku, semoga ini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua. Siapapun yang menulis ini….terimakasih untuk selalu mengingatkan sesama saudara muslim.



Jumat, 08 Januari 2010

Di Stasiun Kota..

Waktu menunjukkan pukul empat lewat lima belas menit sore. Aku berjalan masuk ke dalam stasiun kereta yang selalu ku gunakan kala berangkat dan pulang kerja. Aku masuk dari gerbang timur. Badan terasa lelah dan capek. Saat kaki dah melangkah beberapa langkah masuk ke dalam, segera kaki ini melangkah ke arah tiang pondasi stasiun yang di bawahnya bisa di jadikan tempat untuk duduk sementara.

Aku pun segera menuju tempat itu, dan duduk disana sambil membuka ponsel untuk menghilangkan rasa kantuk yang menyerang. Kala sedang asik duduk, datang seorang laki-laki tua mendekatiku. Setelah melihat sekilas, aku kembali asik dengan message yang di ponsel, dan si bapak duduk di sampingku. Selesai membalas message yang di hape, segera ku masukkan ke dalam tas. kemudian mengedarkan kembali pandangan pada kesibukan yang ada di stasiun kota. tiba-tiba si bapak mengajak berbicara.

"Neng...bapak boleh minta tolong?"

"Minta tolong apa pak?" jawabku

"Bapak kehabisan uang, bapak juga belum makan udah 3 hari, bapak mau pulang ke pasarminggu tapi tidak punya uang. hanya empat ribu yang tersisa disaku, dan itu kurang untuk bisa sampai rumah. Harus jalan kaki, tapi bapak udah tidak sanggup" jelasnya dengan wajah kesedihan.


Sesaat kuperhatikan bapak itu. Kerentaan tergambar dari fisiknya. Aku kasihan melihatnya. kala itu hanya ada sedikit uang dalam dompetku. Maka ku serahkan yang ku punya. Aku terbayang...seandainya aku yang berada dalam posisi itu....sungguh aku tidak bisa membayangkannya.


Dari sini aku ambil pelajaran.
1. Syukurku pada Rabb karena masih diberikan kecukupan, dan beberapa kemudahan dalam urusan.

2. Jangan selalu memandang ke atas karena lebih baik memandang ke bawah untuk terus memperbaiki diri dan agar lebih syukur nikmat.

3. Jangan selalu merasa diri paling susah......karena masih banyak orang yang lebih susah dari kita, dan jangan merasa diri paling baik karena ada yang lebih baik dari kita.

4. Nabi saja selalu mengajarkan untuk bersedekah...jadi kenapa harus pelit untuk bersedekah?!!

5. Sahabat berlomba-lomba untuk meningkatkan ibadahnya termasuk melalui sedekah, jadi kenapa kita ga mau berlomba-lomba dalam kebaikan!!!!!!?!!!

6. Apa yang diberikan pada kita baik rejeki berupa harta benda (uang) maka ingatlah...bahwa itu bukan sepenuhnya punya kita....tapi sebagian darinya adalah titipan Allah swt untuk orang lain (ada hak orang lain di dalamnya)

7. Sedekah akan menjaga kita dari hal-hal yang tak terduga.


Ya Rabb.....terus tempa hamba untuk selalu dalam kebaikan di jalanMu. Matikan aku dalam keadaan baik dihadapanMu.

Senin, 04 Januari 2010

Menyelamlah...

Teramat keliru...teramat keliru...

orang yang menilai wanita cuma karena fisiknya...

bukankah indah lautan Tidak seberapa dipermukaan ...

pesona sejati itu justru kita temukan pada wahana terumbu karang

setelah menyelami dasar samudera...

maka menyelamlah...

Ini kudapat dari FB temanku. Yah…..permukaan tidaklah memperlihatkan keseluruhan dari isi. Banyak misteri yang harus diungkap di dalamnya. Ada juga ungkapan umum yang berbunyi “Dari mata jatuh ke hati”. Sedikit banyak ungkapan itu benar. Tapi pandangan mata yang mana dulu? Apakah mata hanya memandang permukaan saja? Atau mata yang memandang permukaan dan ke dalamannya. Jika hanya memandang permukaannya saja, maka tentu yang di dapat hanya sedikit, namun jika memandang ke dalamnya juga, maka akan mendapatkan kekayaan yang sungguh tak ternilai.

Memang tidak semua memiliki kekayaan itu dengan sempurna, karena memang tidak ada yang sempurna…namun pasti ada kekayaan, walaupun berbeda antara yang satu dengan yang lain…..dan itu tentu saja bisa dipupuk.

Kekayaan hati itu lebih indah. Segumpal daging itulah yang mengontrol keseluruhan dari jasad dan pikiran. Segumpal daging yang jika isinya keimanan, maka kebahagiaanlah yang akan selalu didapatkan. Namun sebaliknya. Jika segumpal daging itu tidak diisi oleh keimanan, kesengsaraan dan ketidaktenangan tentu akan menjadi teman sejatinya.

Jadi…..menyelamlah. Lihatlah kedalaman samudra wanita itu. Beranikanlah diri Anda untuk masuk ke dalam samudra. Temukan mutiara itu. Semakin dalam menyelam, maka semakin akan mendapatkan mutiara nan indah yang tersembunyi dibalik karang-karang yang tajam. Tidak mudah memang untuk menyelam dalam samudra itu. Tapi jika sudah masuk….maka yakinlah bahwa insyaAllah ada mutiara yang siap untuk diambil.